Sharing Pengalaman Pribadi, Sering Sakit Leher Karena Helm “Terlampau Berat”.

ZonaMotor.NET – Sobat pembaca yang budiman, gambar diatas hanyalah ilustrasi yang diambil dari google 😉 ,tapi judul diatas adalah murni pengalaman pribadi Mas Sayur yang ingin Mas Sayur bagikan kepada sobat pembaca dimanapun anda berada, ya….kali aja bisa bermanfaat.

Cerita dimulai dari pilihan Mas Sayur dalam menggunakan helm. Sejak awal mula belajar dan mengenal berkendara dengan sepeda motor, Mas Sayur lebih senang menggunakan helm tipe full face. Dikampung Mas Sayur yang berada di pesisir selatan kabupaten Jember,Jawa Timur,helm full face lebih dikenal dengan istilah helm tropong. Bukan teropong alat yang dipakai untuk mengintip dari jarak jauh itu lho ya (teropong bintang) 😂😂 , helm tropong disini di kampung Mas Sayur, dikalangan masyarakat yang didominasi suku Madura, helm tropong berarti helm yang menutupi secara keseluruhan.Ada sebuah kata dalam bahasa Madura yang berbunyi , “apong tropong ” yang berarti menutupi kepala dengan sesuatu secara keseluruhan hingga kepala dan wajahnya tidak terlihat. Naaah…jadi di situlah asal mula helm full face disebut dengan istilah helm tropong dikampung Mas Sayur. Mungkin di tempat sampeyan pasti ada cerita dan istilah lain..  Itu pasti 😊

Masuk ke inti tulisan.

Alasan Mas Sayur lebih memilih helm tipe full face daripada half face adalah :

  • Proteksi Helm Full Face lebih menyeluruh, dimana pada helm half face,area mulut dan dagu pemakai helm tak ada pelindung sama sekali.Sehingga ada kemungkinan cedera dan luka si bagian mulut atau dagu karena gesekan dengan aspal atau tanah ketika pengendara jatuh.
  • Helm full face Lebih aman dari debu, tak perlu lagi memakai kacamata untuk melindungi mata dari debu dan tak perlu memakai masker untuk meminimalkan debu yang masuk hidung. Berbeda dengan helm half face yang paparan angin dan debu lebih banyak mengenai muka pemakai helm.
  • Saat hujan deras, wajah lebih aman dari air hujan, karena kaca helm full face rapat tertutup dan tak tembus air walau hujan deras,beda dengan helm half face yang ketika menerobos hujan, air akan tetap mengenai wajah pemakai di area dagu dan mulut.
Baca Juga :  I Call it Paimo..

Dulu, dalam menentukan pilihan helm Full Face, Mas Sayur nggak pernah terlalu selektif dari segi ukuran berat, asal memenuhi standar SNI, model ciamik, harganya murah…., angkut dan pakai 😂

Lebih seringnya sich, Mas Sayur menggunakan helm full face hadiah dari dealer atas pembelian motor sport, itu pun bukan Mas Sayur yang beli motornya. Kebanyakan pembeli motor sport nggak doyan dengan helm full face hadiah dealer, dan akhirnya dilego dibawah harga…, naah ini makanan empuk 😂

Lanjuuut…

Beberapa kali as Sayur berganti helm full face hadiah pabrikan, dan selama itu tak ada kendala ataupun gangguan apa pun.

Dan suatu ketika, Mas Sayur membeli sebuah helm full face yang tak perlu disebukan merknya di sebuah Mall. Sebut saja helm X. 😉

Kesan pertama memakainya, “koq helm ini agak berat,ya ?”, pikir Mas Sayur dalam hati, namun itu berlalu seiring kesibukan dan berjalannya waktu.

Seminggu-dua minggu memakai helm X tersebut, Mas Sayur mulai merasakan gangguan sakit pada leher dan gangguan tersebut terjadi setiap hari di saat beraktifitas berkendara dengan menggunakan helm X tersebut, dan anehnya gangguan sakit tersebut hilang setelah tiba dirumah langsung istirahat dan tidur,maka sakit di leher tersebut sembuh.

Dari sini Mas Sayur tidak pernah berpikiran bahwa penyebab sakit di leher tersebut adalah helm X yang ternyata cukup berat. Mas Sayur masih berusaha Husnudzon bahwa sakit leher tersebut karena kelelahan dan ngantuk, mengingat aktifitas harian Mas Sayur dimulai dari jam 4 sebelum subuh disaat orang lain masih enak-enaknya tidur. 😊

Baca Juga :  Mengadu Skill Instruktur Safety Riding Indonesia di Kancah Internasional.

Namun pada akhirnya, rasa sakit tersebut begitu mengganggu aktifitas harian,dan sampai disini Mas Sayur belum punya kecurigaan pada helm yang terlalu berat, Mas Sayur mengkhawatirkan apakah ini semacam penyakit hipertensi, kolesterol dan atau sejenisnya. Puncaknya Mas Sayur ngobrol tentang keluhan ini dengan seorang dokter muda di RSUD Jayapura yang kebetulan adalah konsumen Mas Sayur dan kebetulan juga adalah pembaca blog ini. ( Atas dasar alasan privasi,Pak dokter tak mau dipublikasikan identitasnya).

Singkat cerita,Mas Dokter bilang, “Mas….,coba sampeyan ganti helm yang lebih ringan, nanti dilihat bagaimana apakah sakitnya masih berlanjut”.

Sampai disini Mas Sayur masih tak percaya, apa iya helm X terlalu berat dan menyebabkan gangguan syaraf leher ?

Sampai dirumah, helm X Mas Sayur timbang, beratnya 1,8 kg saja padahal.

Mas Sayur masih berusaha mencari second opinion, maka sowan (bertamu) lah Mas Sayur ke padepokan Mbah Gugel dan bertanya tentang “BERAT IDEAL HELM”.

Dan….mak jegeeeer….,Mbah gugel memberikan banyak referensi yang isinya sama, bahwa berat ideal sebuah helm adalah 1,2 sampai 1,5 kilogram dan tak boleh melebihi 2 kilogram dan helm yang terlalu berat akan mengganggu bahkan bisa merusak syaraf leher.😱😱 😢Salah satu referensinya bisa dilihat DI SINI.

Seolah tak percaya…,tapi akhirnya Mas Sayur menerima referensi Mbah Gugel dan bergerak cepat mencari helm pengganti.

Ubek-ubek group jual beli online via fitur Marketplace di Facebook, akhirnya nemu helm yang pas dihati dan COD dengan harga terjangkau. Berikut penampakan helm dan beratnya.

Baca Juga :  Selamat Datang, Suzuki GSX-S150.

Lalu helm ini menjadi helm harian yang Mas Sayur pakai beraktifitas setiap hari.

FYI ,lamanya waktu berkendara Mas Sayur dengan menggunakan helm setiap harinya sekitar 5-6 jam saja sebenarnya.

Dan bagaimana dampaknya pada leher yang selama ini mengalami gangguan seperti tersebut di atas ?

Alhamdulillah….sudah tidak pernah sakit lagi…

Ternyata selisih berat 0,5 kg dikepala yang dipakai selama 5-6 jam setiap hari sangat mempengaruhi syaraf leher saya.

Dan jika ada sobat pembaca yang tidak mengalami gangguan apapun ketika menggunakan helm yang lebih berat dari yang saya pakai diatas, maka bersyukurlah…, karena kondisi fisik anda lebih kuat dari saya, sebagaimana diketahui bersama kondisi fisik dan imunitas setiap individu itu berbeda-beda. 😊

Terimakasih telah meluangkan waktu membaca, semoga bermanfaat.

 

 

Advertisements

4 tanggapan untuk “Sharing Pengalaman Pribadi, Sering Sakit Leher Karena Helm “Terlampau Berat”.

  • September 21, 2018 pada 4:17 pm
    Permalink

    bener sekali mas. apalagi kalau harus touring berminggu-minggu.

    Balas
  • September 24, 2018 pada 9:46 am
    Permalink

    Betul sekali, Mas Sayur.
    Ada individu2 yg sensitif thd berat helm.

    Istri saya kalo pake helm I** selalu pusing. Setelah pake K** yg lebih enteng, enggak pusing lagi. Yg I** dikasihkan ke mantu perempuan, dia nggak ada keluhan tuh, oke2 aja tuh pakenya.

    Tapi kalo helm beratnya 1,8 kg memang terlalu berat sih.
    Punya saya full face yg N**an beratnya sekitar 1,2 kg aja koq.

    Sayangnya punya Mas Sayur merek2nya ditutup, hehe… jadinya pembaca enggak tahu merek helm yg berat dan yg enteng itu. Tapi dimaklumi sih, hehe…

    Balas

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: